Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 30 Desember 2011

Anak Berkebutuhan: Introduksi

Studi mengenai anak-anak berkebutuhan khusus merupakan suatu studi mengenai sebuah persamaan, sekaligus mengenai perbedaan. Anak dengan kebutuhan khusus berbeda dalam beberapa hal bila dibandingkan dengan rata-rata anak sesianya, namun seiring dengan berkembangnya zaman, studi mengenai anak-anak berkebutuhan khusus tidak lagi berfokus pada bagaimana anak berkebutuhan khusus tersebut berbeda dengan anak yang lain melainkan bagaimana persamaan yang dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak yang lainnya. Oleh karena itulah, studi mengenai anak berkebutuhan ini semakin rumit dan kompleks. Menentukan spesifikasi untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus agak sulit, karena bisa jadi ketidakjelasan dan seringnya ada pergantian definisi tipe anak dengan kebutuhan khusus tersebut. 

Exceptional Children merupakan anak-anak  yang membutuhkan pendidikan khusus serta pelayanan yang terkait untuk membuat mereka menyadari potensi-potensi yang mereka miliki. Exceptional children membutuhkan pendidikan yang khusus dikarenakan mereka memiliki perbedaan bila dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka.  Kebanyakan anak yang berkebutuhan khusus pada awalnya dimasukkan ke sekolah regular. Seorang anak berkebutuhan khusus akan ditransfer ke sekolah khusus jika dalam penanganannya di sekolah regular menemukan jalan buntu. Oleh karena itulah, seorang tenaga pengajar baik yang terlatih ataupun tidak, bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus.


Tenaga pengajar semestinya bisa melakukan:
1. Observasi terhadap anak-anak didiknya, dan jika menemukan anak didik yang dicurigai merupakan anak dengan kebutuhan yang khusus, maka harus segera dievaluasi oleh tim multisipliner.

2. Mengevaluasi kemampuan dan ketidakmampuan akademik anak didiknya, karena para guru harus bisa melaporkan secara terperinci bagaimana kemampuan dan ketidak mampuan anak didiknya dalam bidang akademik yang merupakan tanggung jawa mereka.

3. Bekerja sama dengan para professional dari disiplin ilmu yang lain seperti psikolog, dokter, dan sebagainya untuk dapat menentukan spesifikasi kebutuhan anak didik yang berkebutuhan khusus dengan tipe pendidikannya.

4. Berpartisipasi dalam penulisan perencanaan pendidikan individu.

5. Berkomunikasi dengan orang tua atau wali anak didik.

6. Berpartisipasi dalam proses hearings dan negosiasi.

Banyak orang tua yang tidak siap untuk menerima diagnosis anak mereka yang ternyata termasuk dalam kategori anak dengan kebutuhan khusus. Roos (1975) mendeskripsikan reaksi orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus, antara lain hilangnya self esteem,malu, ketidakseimbangan, depresi, pengorbanan diri, dan defensiveness.

Pendidikan khusus tidak begitu saja muncul sebagai satu disiplin baru, tidak pula berkembang sendiri dan terputus dari disiplin ilmu yang lain. Sekolah privat dan pengajar memegang peranan penting dalam pendidikan untuk anak cacat sejak awal mula munculnya pendidikan khusus. Bukan hanya itu saja, terdapat pula hukum-hukum yang mengatur tata cara penanganan anak-anak dengan kategori berkebutuhan khusus ini. Hukum memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak mengalami penganiayaan dari lingkungan sekitarnya. Hukum saat ini memerintahkan bahwa setiap anak dengan kebutuhan khusus harus ditempatkan di lingkungan yang bisa mendukung , sehingga intervensi bisa konsisten dengan kebutuhan individu dan tidak terpengaruh dengan potensi serta kebebasan individual. Terdapat pula organisasi yang secara khusus menangani permasalahan anak-anak dengan kebutuhan khusus, yaitu Council for Exceptional Children.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
 

Designed By Blogs Gone Wild!