Perkembangan Kognitif Manusia usia 0-11 tahun
1. Tahap sensorimotor (0-2 tahun)
Pada waktu lahir (umur 0-1 bulan), tingkah laku bayi lebih refleks. Tindakan bayi didasarkan pada refleks terhadap rangsangan dari luar dan belum ada diferensiasi objek. Piaget mengemukakan bahwa pengertian bayi tentang ruang masih terpecah-pecah atau tidak menyeluruh. Hal tersebut disebabkan oleh benda-benda yang diketahuinya melalui sentuhan, dan setelah dijauhkan, akhirnya tidak kelihatan lagi. Pada umur 1-4 bulan bayi mulai membentuk kebiasaan yang dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ulang suatu tindakan. Pada umur 4-8 bulan bayi mulai membuat reproduksi akan tindakan-tindakan yang menarik dan mulai membedakan sarana dan tujuan. Pada umur 8-12 bulan bayi berada dalam periode koordinasi skemata, yang berarti bahwa individu mulai menggunakan sarana untuk mencapai tujuan, melihat benda secara permanen, dan sadar bahwa benda lain dapat menjadi sebab tindakan. Pada umur 12-18 bulan, tingkah laku intelegensi akan mulai muncul. Individu mencoba mencari pemecahan melalui eksperimen, trial and error. Pada usia 18-24 bulan, anak mulai mampu menggambarkan objek dan kejadian dengan simbol.
2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Unsur yang menonjol dalam tahap praope
rasional ialah bahasa simbol mulai digunakan, yang berupa gambaran dan bahasa ucapan. Pemikiran yang menonjol pada tahap ini adalah pemikiran simbolis atau semiotik pada umur 2-4 tahun dan pemikiran intuitif pada umur 4-7 tahun. Pemikiran intuitif ini masih mempunyai banyak kesamaan dengan sensorimotor, sehingga masih menghambat anak dalam menganalisis persoalan disekitar reversibilitas.
3. Tahap operasional konkret (8-11 tahun)
Tahap operasional konkret memiliki cirri dengan pemikiran anak yang sudah berdasarkan logika tertentu dengan sifat reversibilitas dan kekekalan.
Perkembangan Kognitif Remaja
Piaget (Santrock, 2002) mengemukakan bahwa berdasarkan kemampuan kognitif yang berkembang, maka remaja telah mampu membedakan ide-ide penting yang harus diperhatikan selain itu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, namun juga mampu mengadakan proses kognitif sehingga memunculkan suatu ide baru.
Pada masa ini remaja mengalami tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap operasional formal (Piaget dalam Santrock, 2002), yaitu tahap dimana individu telah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi yang secara jelas ditangkap oleh panca indera. Remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Remaja dalam tahapan perkembangan kognitif mampu memikirkan alternatif jawaban atas pertanyaan yang sama, tidak seperti dalam tahapan operasional konkret yang hanya mampu menjawab satu jawaban untuk satu pertanyaan.
Santrock (2002) mengemukakan bahwa remaja sudah mampu memikirkan situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan. Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Perkembangan Kognitif Dewasa
Santrock (2002) mengemukakan bahwa proses kognitif, yaitu belajar, memori, dan inteligensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus bertambahnya usia. Usia terkait dengan penurunan proses kognitif ini juga tercermin dalam masyarakat ilmiah. Perkembangan kognitif pada masa dewasa menurut K. Warner Schaie, yaitu:
1. Fase mencapai prestasi, merupakan fase pada dewasa
awal yang melibatkan penerapan intelektualitas pada situasi yang memiliki konsekuensi besar dalam mencapai tujuan jangka panjang, misalnya pencapaian karir dan pengetahuan.
2. Fase tanggung jawab, merupakan fase yang terjadi ketika keluarga terbentuk dan perhatian diberikan pada seluruh keperluan pasangan dan keturunan.
3. Fase eksekutif, merupakan fase dimana individu bertanggung jawab terhadap sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial.
4. Fase reintegratif, merupakan fase dimana orang dewasa yang lebih tua memilih untuk memfokuskan tenaga pada tugas dan kegiatan yang bermakna.
Referensi:
Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar